Minggu, 19 Juli 2015

Berkah Erupsi Merapi

Menurut sejarah, erupsi merapi tahun 2010 jauh lebih besar daripada erupsi gunung tersebut yang terjadi tepat pada tahun 1972. Ditinjau dari banyak indikator termasuk material yang dimuntahkan oleh merapi. Tragedi erupsi merapi 2010 telah menelan 353 orang tewas, merusak 291 rumah, dan satu tanggul jebol di Desa Ngepos akibat terkena luapan lahar dingin.
Meskipun erupsi ini telah menelan banyak korban jiwa dan merusak alam, dampak dari peristiwa ini telah memberikan berkah bagi masyarakat sekitar. Masyarakat dusun sekitaran merapi yang dahulu tidak mendapat perhatian dari pemerintah, kini telah menerima banyak bantuan dari segi kesehatan, pendidikan, kebutuhan hidup, fasilitas umum dan fasilitas sosial.
Kesehatan masyarakat di sekitar merapi yang dulunya kurang diperhatikan oleh pemerintah, kini setelah peristiwa tersebut masing-masing masyarakat mendapatkan jamkesmas, sehingga mereka mempunyai asuransi kesehatan dan dapat berobat dengan gratis.
Penduduk yang masih bersekolah mendapatkan beasiswa pendidikan, sehingga mereka bisa melanjutkan pendidikan wajib secara gratis dan orang tua mereka tidak perlu khawatir untuk menyisihkan pendapatannya untuk membiayai pendidikan anak-anaknya.
Kebutuhan hidup warga pun tidak terlalu berat setelah erupsi merapi, mereka justru senang karena mendapatkan banyak bantuan makanan dan daging ayam ataupun daging sapi.
Pemerintah juga membangun fasilitas umum dan fasilitas sosial seperti masjid, pendopo untuk berkumpul, balai desa, jalanan, instalasi air, tempat pembuangan sampah, dan jaringan listrik.
Warga yang tinggal di zona rawan merapi dan warga yang rumahnya hancur terkena lahar dingin dibangunkan rumah siap huni oleh pemerintah. Dengan bermodalkan kartu keluarga, satu keluarga mendapatkan rumah dari pemerintah senilai 30 juta lengkap dengan instalasi air, listrik PLN dengan menggunakan pulsa, rumah yang berbahan dasar batako, air pam dan kamar mandi di dalam setiap rumah.
Bahkan walaupun dulunya keluarga tersebut tidak memiliki rumah, tetap saja mereka akan diberikan rumah oleh pemerintah asal mereka menyetujuinya dan bermodalkan kartu keluarga, bahkan beberapa warga jadi ada yang mempunyai dua rumah, karena ada yang rumah lamanya tidak rusak.
Saat terjadi perjanjian antara warga dengan pemerintah yang ingin memberi rumah, muncul isu apabila keluarga dalam satu kartu keluarga setuju untuk mendapat rumah dari pemerintah dan bersedia pindah, maka rumah lama akan dihancurkan. Sehingga akibat dari isu ini adalah ada beberapa keluarga yang tidak bersedia menerima rumah dari pemerintah karena berpikir bahwa mereka telah berkorban selama bertahun-tahun untuk mendirikan rumah tersebut, tetapi hanya karena merapi dan dapat rumah gratis dari pemerintah, rumah hasil kerja keras mereka akan diruntuhkan. Karena pemikiran seperti itulah makanya beberapa keluarga tidak mau melakukan perjanjian untuk mendapat rumah dan memilih untuk tetap menetap dirumah lama mereka yang berada di daerah rawan merapi. Padahal tujuan pemerintah memberikan rumah agar masyarakat tinggal di daerah yang aman, demi keselamatan mereka dari ancaman erupsi merapi, dan tidak terkontaminasi oleh debu vulkanik yang berdampak buruk bagi kesehatan.
Tetapi malah terjadi keanehan di sekitar perumahan baru. Saat siang hari tiba, rumah–rumah baru yang disediakan oleh pemerintah sangatlah sepi seperti tak berpenghuni, karena mereka kembali ke rumah lama mereka untuk melaksanakan kegiatannya walaupun iu terletak di daerah yang rawan. Mereka kembali ke rumah lama dengan alasan mereka bekerja di lahan pertanian di sekitar rumah yang lama. Sangatlah disayangkan hal seperti itu terjadi karena pemerintah telah menyediakan rumah layak huni di daerah yang aman dari bencana, yang dimaksudkan agar para masyarakat aman. Tetapi mereka malah tetap melakukan kegiatan di rumah yg lama. Lalu mereka akan kembali ke rumah saat sore telah tiba, sekitar pukul 5 sore.
Finally, kehidupan masyarakat merapi sekarang sudah lebih sejahtera daripada sebelumnya, mereka semua telah memiliki rumah, menerima beasiswa pendidikan, jaminan kesehatan, dan dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka.





Stigma Anak Punk

Anak Punk
            Punk merupakan komunitas yang biasanya dianggap sebagai kaum kriminal yang meresahkan warga. Bagaimana tidak? Mereka selalu menggunakan pakaian serba hitam, badannya dihiasi tato, hidung dan telinganya ditindik dan gaya rambutnya skinhead atau Mohawk. Namun, memang begitulah cara mereka menunjukkan identitasnya dan eksistensinya sebagai orang-orang marjinal.
            Banyak orang mengira bahwa anak punk adalah kumpulan orang yang tidak berpendidikan. Ternyata pandangan kita salah, mereka justru berwawasan luas bahkan lulusan sarjana. Komunitas ini sangat menjunjung tinggi nilai solidaritas, loyal dan berpegang teguh pada ideologinya “Do It Yourself” yang berarti hidup secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan kelompok dan antikerakusan—antikemapanan. Ideologi anak punk mencakup aspek social dan politik, karena pada awalnya komunitas punk terlahir dari jeritan – jeritan masyarakat terhadap para politikus.
             Komunitas Taring  Babi mampu mengahancurkan stigma – stigma yang dipandang oleh masyarakat. Komunitas ini merupakan komunitas punk yang hidup dengan ideology punk murni. Taring Babi yang tinggal di daerah srengseh sawah dapat berbaur dengan sangat baik bersama warga sekitar. Bahkan warga setempatpun sangat menyayangi komunitas ini.
            Kenapa demikian? Jawabannya adalah karena taring babi menunjukkan jati diri punk yang sesungguhnya. Kelompok manusia yang sangat menghargai manusia lainnya, mereka sangat menjunjung tinggi prinsip kebersamaan. Dibalik penampilan yang dianggap criminal ternyata mereka justru memiliki sisi kemanusiaan yang cukup tinggi.
            Pada awalnya saat pertama kali komunitas ini datang ke kampung, warga sempat resah dan akhirnya mereka memberikan kesempatan kepada mereka untuk tinggal ditempat tersebut semacam memberikan masa percobaan.
            Dalam masa percobaan ternyata Komunitas Taring Babi menunjukkan pola hidup yang baik dan dapat diterima oleh masyarakat dengan cara mereka mengikuti berbagai macam kegiatan warga setempat seperti kerja bakti bahkan mengikuti pengajian setempat. Mereka dapat berbaur dengan warga setempat secara baik.
            Komunitas inipun memberikan dampak positif kepada warga setempat seperti mengajarkan bahasa inggris kepada warga, memberikan sarana untuk mengembangkan kreativitas mereka. Komunitas Taring Babi hidup secara sehat dan bersih dari narkoba, mereka saling menjaga kepercayaan warga sekitar , mereka melarang anak punk yang datang dari dalam atau luar negri membawa narkoba ke dalam rumah mereka. Komunitas ini berprinsip anti narkoba dan disuarakan dalam album mereka “Daun Singkong Lebih Sehat Dari Pada Daun Ganja”. Dan faktanya semua punkers yang datang mematuhinya tidak ada yang membawa ataupun menggunakan narkoba ataupun  sejenisnya, komunitas ini berhasil mematahkan stigma lainnya.
            Tempat inipun menjadi sarana untuk menemukan jati dirinya sendiri bukan hanya untuk ikut – ikutan menjadi punk, semua orang bebas untuk mengekspresikan dirinya. Seperti slogan yang dituliskan di pintunya yang berbunyi “Disini bukan tempat untuk menjadi punk, disini bengkel untuk menjadi dirinya sendiri”. Tempat ini sangat terbuka untuk siapapun yang ingin belajar bersama mengembangkan potensi dirinya.
            Komunitas ini bertahan hidup dengan karya – karyanya sendiri seperti ideology yang mereka “Do It Yourself” mereka berkarya lewat jalur music yaitu band marjinal yang menyuarakan tentang aspek social dan politik. Membuat kreativitas yang dapat dijual seperti cukilan, melukis, membuat poster, nyablon, membuat tato, dan mengisi rumah mereka dengan barang – barang yang dibuat sendiri menggunakan daur ulang, seperti asbak yang dibuat dari bekas botol plastic.
            Saat ulang tahun marjinal, warga sangat antusias menantikan rangkaian acara yang akan mereka lakukan bersama, seperti lomba masak bersama yang diikuti oleh ibu – ibu setempat bersama komunitas Taring Babi.
            Pergaulan kaum Punk sangatlah luas, koneksi mereka tersebar di seluruh dunia, Taring Babi merupakan kelompok Punk yang terkenal dikalangan Punk di dunia, mereka sering diundang untuk manggung di luar negri seperti Jerman, Belanda dan Jepang. Apabila ada tamu anak punk dari luar kota atau luar negri yang sedang ke Jakarta, mereka pasti mampir ke basecamp Taring Babi untuk bertemu atau bersilahturahmi karena hubungan antar anak punk yang menjunjung nilai solidaritas.
            Komunitas ini mampu menunjukkan identitas “anak punk” yang sesungguhnya, mematahkan pandangan sempit kita terhadap punk yang sering dipandang sebelah mata. Taring Babi mampu mematahkan stigma negative masyarakat terhadap punk dengan pendekatan dan pembuktiannya selama ini.

Oleh: Nabila Ismail

Diterbitkan dalam buku Seri Pemikiran Mahasiswa FEUI "Sebuah Lentera" dapat ditemukan di Gramedia.