Senin, 16 November 2015

Penelitian Daerah tentang Reklamasi Tanjung Benoa

Penelitian daerah di Tanjung Benoa, Bali - Agustus 2015

Pada bulan Agustus tahun 2015 saya dan teman – teman mahasiswa organisasi Badan Otonom Economica kembali melakukan penelitian daerah yang merupakan agenda rutin tahunan kami. Tahun ini kami melakukan penelitian daerah ke Pulau Dewata Bali, tepatnya di Tanjung Benoa. Kami melakukan penelitian mengenai “Reklamasi Tanjung Benoa”. Cara penelitian yang kami lakukan adalah dengan melakukan wawancara langung dengan warga di Tanjung Benoa, kami mengetuk pintu rumah mereka sesuai dengan blok – blok perumahan yang sudah dibagi bagi perkelompok surveyor. Tujuan kami dalam mengangkat tema ini adalah untuk mengetahui apakah respon warga terhadap reklamasi tanjung benoa yang merupakan daerah tempat tinggal mereka.
Dalam melakukan wawancara di Tanjung Benoa ini, tidak semulus saat kami melakukan wawancara di Merapi tahun sebelumnya, karna saat di Merapi semua warga bersedia untuk diwawancarai. Sedangkan saat kami melakukan wawancara di Tanjung Benoa ini, kami mendapatkan kesulitan bahwa warga setempat tidak bersedia untuk di wawancarai, meskipun kami sudah memberitahukan  kepada mereka bahwa kami sudah mendapatkan izin dari pemerintah setempat dan orang kehormatan (kepala suku setempat) di Tanjung Benoa.
Ternyata sebelumnya warga Tanjung Benoa sudah sering kedatangan para “peneliti nakal” mereka mengaku peneliti dari sebuah institusi yang dating untuk melakukan wawancara kepada warga setempat, lalu memberikan insentif seperti sembako, tetapi mereka meminta tanda tangan dan foto kopi kartu keluarga dan KTP. Ternyata tanda tangan yang dikumpulkan oleh para peneliti nakal dikumpulkan dan dinyatakan sebagai tanda tangan warga yang sudah setuju untuk reklamasi tanjung benoa. Karena kejadian ini warga sudah tidak terbuka kalau ada yang datang untuk melakukan wawancara mengenai reklamasi tanjung benoa, karena mereka takut dibohongi oleh oknum – oknum picik seperti yang pernah terjadi.

Respon warga dalam menolak sangat bermacam – macam, mulai dari menolak secara halus hingga yang paling ekstrem menangis karena ketakutan mendengar kata reklamasi lalu berdoa kepada dewa – dewanya. Kata reklamasi sangat sensitive bagi masyarakat setempat, karena berdasarkan informasi dari warga yang berhasil saya wawancara, kebanyakan dari mereka menentang atau tidak setuju dengan reklamasi di daerah mereka. Hal ini disebabkan oleh banyak hal, diantaranya reklamasi yang sebelumnya pernah dilakukan di bali menjadi proyek gagal yang sekarang ini hanyalah menjadi daerah dengan tumpukan pasir yang terbengkalai. Tanjung Benoa merupakan tempat asal mereka dan sumber pencarian nafkah bagi penduduk setempat Karena apabila reklamasi dilakukan di Tanjung Benoa, maka otomatis semua kegiatan jual beli dan jasa wisata yang tadinya dilakukan oleh warga berpindah tangan menjadi milik pihak swasta dan semua kegiatan bisnis di atas Tanjung Benoa menjadi milik pihak swasta kapitalis. Ada juga yang sangat mencintai alam di Tanjung Benoa dan merasa bahwa kalau terjadi reklamasi nantinya akan merusak terumbu karang di Tanjung Benoa. Bahkan ada juga warga yang mengaitkan reklamasi dengan kekuatan mistis jahat, kalau reklamasi terjadi nantinya akan mendatangkan hal buruk dan membuat dewa marah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar